- 6 hari t'lah berlalu sejak hari perpisahan itu. Hampir seminggu aku menjalani hidup sebagai manusia setengah pengangguran. Bangun awal, olahraga, menikmati indahnya pagi bersama segelas kopi, bersih-bersih diri, dan kemudian membuang-buang waktu dengan menonton acara-acara tak bermutu di stasiun televisi apapun yang dapat dilacak antena kecil di rumahku yang kecil hingga mood kerjaku datang dan aku mulai mengerjakan pekerjaan freelanceku.
Terkadang aku merindukan masa-masa itu, dimana aku memiliki susunan kegiatan yang jelas, bekerja pada sebuah hotel bintang tiga di kota kelahiranku sebagai seorang staff accounting. Dimana setiap pagi aku akan melihat berbagai orang dengan kepribadian, ras, suku, dan kesibukan yang berbeda berjalan melalui lobby hotel, menghampiri resepsionis dan berkata "cek out ya", kemudian bergegas ke cafe untuk menyantap sarapannya. Menyapa karyawan-karyawan hotel dengan senyumanku yang err...tidak begitu manis. Sungguh suasana kerja yang tak terlupakan bagiku.
Satu lagi yang tidak akan pernah kulupakan semasa aku bekerja disana, yaitu kebeng yang selalu kusantap dikala aku merasa lapar sebelum jam istirahat tiba atau sebelum jam pulang mengusirku dari ruangan accounting, yang ditawarkan oleh Amel. -
---------------------------------------------------------------------------------
Pagi itu, aku tiba di kantor dengan pakaian yang rapi. Sungguh tak seperti aku, bahkan cermin di rumahku sepertinya tidak merefleksikan diriku yang sebenarnya. Aku yang biasa mengenakan jeans lusuh dan kaos oblong serta sepatu kets sebagai alas kaki, kini menggunakan celana kain warna gelap, kemeja lengan panjang yang disetrika dengan rapi, dan sepatu pantofel ciri khas bapak-bapak kantoran. Ya, hari ini adalah hari pertamaku menjadi karyawan hotel Orchid, salah satu hotel berbintang tiga yang sudah dikenal baik oleh banyak orang di kota kecil ini.
Dengan penuh kesiapan aku berjalan menuju mesin absen, menekankan jempol kananku pada sensor kecil mesin absen hotel tersebut hingga berbunyi "Thank You", dan segera naik ke lantai 3, menuju ruang yang sudah diitunjukkan padaku pada saat aku diterima bekerja. Jarum jam di arlojiku masih menunjukkan pukul 07:30 waktu itu, padahal jam kerja dimulai pada pukul 08:00. "Apa aku datang terlalu awal? Apa udah ada orang dalam ruangan?" pikiran itu terus menghantuiku sampai akhirnya aku tiba pada ruang tersebut, ruang accounting yang terpencil namun nyaman, dan disambut oleh Amel, salah satu pemegang kunci ruangan yang sekaligus merupakan seorang finance controller di hotel ini.
"Anak baru ya?" sapanya pelan. "Eh, iya," jawabku pelan pula, mencoba menyesuaikan volume suaraku dengannya. Kami kemudian berjabat tangan dan memperkenalkan diri masing-masing. "Andi," kataku. "Amel," begitu pula jawabnya, singkat, sepertinya dia juga mencoba menyesuaikan jawabannya denganku, sama-sama empat huruf, dan diawali dengan tekanan yang sama. Hah, sudahlah, lagipula apalah artinya sebuah nama.
"Duduklah dulu disana tuh, masih awal, masih sepi, baca-baca jak dulu buku aturan accounting sambil nunggu yang lain datang," katanya padaku. "Iya," jawabku. Akupun duduk di kursi yang ditunjuk Amel dan membaca buku yang disebutnya. Kuperhatikan jam tanganku, masih sekitar 25 menit lagi untuk si jarum kecil menyentuh angka 8. "(buku setipis ini pasti selesai dalam 5 menit, kalo udah habis, tapi lom ada orang, masa aku duduk membodoh disini?)" bisikku dalam hati. Kulihat ruangan tempat Amel duduk dan kuperhatikan Amel yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri. "(wanita aneh)" bisikku kembali dalam hatiku.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan berbunyi dan kulihat Lisa, dept. head accounting yang sudah kutemui sebelumnya pada saat interview, masuk melalui pintu kayu tersebut. Hah, taukah kamu? Mungkin aku adalah satu diantara semua staff accounting yang beruntung karena memiliki dept. head yang masih bagitu muda dan menawan. Melihat senyumnya sungguh membuka hariku dengan baik, bahkan kutulis di status bbmku "I'm feeling so lucky today". Hahaha...
Menit-menit berlalu, satu per satu staff accounting datang dan memulai kesibukannya masing-masing. Sepertinya kehadiranku bukanlah sesuatu yang "WOW", karena tidak ada yang peduli akan kehadiran makhluk baru dalam ruangan ini.
"Eii, ada anak baru aa, kenalan dulu lha," teriak Lisa kepada staff-staff lainnya. Aku pun mulai berkenalan dengan staff-staff accounting yang sangat bervariasi. Dari yang tinggi sampai pendek, kurus sampai gendut, ceplas ceplos sampai cool, bahkan yang normal sampai aneh pun ada. Sejenak aku ragu dapat bertahan dengan teman-teman baru seperti ini. Tapi ternyata beberapa hari bahkan beberapa bulan berlalu dengan baik dan berkesan bagiku.
----------------------------- beberapa hari kemudian ----------------------------
Aku mulai akrab dengan teman-teman seruanganku, terlebih karena ada Rendy, orang yang sudah kukenal sejak SMA. Meski tidak begitu akrab, tapi dia sangat berperan dalam membantuku untuk mengenal yang lain.
Dimulai dari Amel dan Lisa, kemudian Rendy, aku akhirnya mengenal Juwita a.k.a Juhi, gadis yang ntah bagaimana menjelaskan sikapnya. Dia penuh semangat dan emosi yang berapi-api, kurasa jiwa para pahlawan pada saat penjajahan banyak yang menetap dalam dirinya. Kemudian Tedy dan Ardi. Waktu itu Ardi udah mau berhenti dan Tedy adalah penggantinya. Mereka berdua sangat cocok kurasa. Sebagai teman tentunya, bukan sebagai pacar. Livi, gadis kerdil a.k.a kurcaci. Kesan pertama aku melihatnya seperti aku melihat seorang pemimpin Nazi yang terkenal, Adolf Hitler, yang senang marah-marah dan memerintah sana sini. Terkadang aku kasihan melihat Tedy yang setiap hari dimarahinya.
Ok, lanjut ke Frendy, collector dengan gayanya yang santai dan easy-going, seorang pet-lover sama sepertiku. Kami mulai suka berbincang mengenai anjing peliharaan setiap sebelum dia pergi menjalankan tugasnya. Terakhir, Aphink dan Ivan, 2 orang yang kurasa aneh, tapi menjadi teman pertamaku di Orchid. Ivan yang membawaku berkeliling hotel, dan Aphink yang menjadi guru privatku. Mereka aneh napa ya? Ivan, mungkin karena dia bukan orang yang tenang, selalu terburu-buru bahkan dalam berkata-kata. Sampai terkadang aku tak mengerti apa yang dikatakannya. Sedangkan Aphink...simplenya dapat kubilang kalo dia itu mirip bayi gede, polos, culun, dan sejenisnya.
-------------------------------- 5 bulan kemudian -------------------------------
Tak terasa, sudah 5 bulan aku bekerja disini. Rasa jenuh mulai terasa, bukan karena lingkungannya dan orang-orangnya yang membuat aku tak nyaman, tapi lebih karena kebebasanku yang berkurang semenjak aku bekerja disini. Amel adalah orang yang tau segala keluhanku selama bekerja di tempat ini. Berkali-kali aku menceritakan setiap keluhanku padanya dan ditanggapinya dengan pasrah. Satu-satunya alasan aku dekat sama Amel adalah karena dia merupakan sosok seorang kakak yang kuinginkan. Sister-complex yang kurasakan bisa kuobati dengan kehadiran Amel dalam 5 bulan ini.
Ini adalah bulan terakhir aku bekerja di Orchid karena aku sudah benar-benar mengajukan surat resignku. Pada bulan ini pulalah aku mulai melalui hari-hariku dengan minimal sekeping kebeng dari Amel. Kurasa hal ini bisa menjadi kenanganku dengan Amel yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Setiap pagi aku menikmati sekeping kebeng bersama Amel dan berbagi banyak canda tawa.
Padahal dari mulai bulan kedua aku bekerja di Orchid, aku sudah terlalu banyak menyantap kebeng yang sama dan semua terasa biasa saja. Aneh bagiku ketika pada saat-saat terakhir aku bekerja, setiap kepingan kebeng mulai memiliki arti yang mengukir cerita.
Kuingat pada satu hari, saat aku benar-benar kelaparan, aku cuma bisa berharap pada kebeng yang terletak dalam ruangan Amel dan Lisa. Tapi karena Amel dan Lisa tidak di kantor, aku ga berani masuk ke ruangan mereka dan mengambil bungkusan kebeng di dalam. Aku menunggu dan terus menunggu hingga Amel dan Lisa kembali. Badanku mulai lemas dan keringat dingin membasahi tengkuk leherku. Aku tetap menunggu sambil membaringkan kepalaku di atas meja yang tak terpakai pada ruangan accounting.
"Krieeet.." bunyi pintu terbuka, dan kulihat Amel dan Lisa sudah kembali. Aku mengikuti mereka masuk ke dalam ruangan dan segera meminta kebeng pada Amel dan menceritakan penderitaanku menahan lapar ketika mereka pergi. Amel dengan polosnya menjawab, "Napa ga ambil sendiri jak?" Aku cuma bisa diam sambil menyantap kebeng yang diberikannya. Ntahlah, perkataan Amel menunjukkan perhatiannya atau bisa juga ejekan kepadaku. Tapi kepingan kebeng pada hari itu adalah yang paling kuingat, karena tanpa sekeping kebeng itu, aku mungkin sudah pingsan dengan kepala tersandar di atas meja.
---------------------------------------------------------------------------------
- sesekali aku masih berkunjung ke hotel Orchid dan menghampiri ruang accounting, terutama ruang kecil tempat Amel dan Lisa berbagi komputer, dan Amel masih menawarkan kebengnya padaku sekalipun aku bukan lagi karyawan di hotel tsb. Perhatian yang tertumpah melalui kepingan kebeng, ntah aku yang menanggapinya berlebihan atau memang begitu adanya, tapi aku benar-benar berterima kasih atas setiap kepingan kebeng yang kusantap selama aku bekerja disana.
Terima kasih buat semua teman-teman accounting dept. yang sudah menerima aku dan berteman denganku, terutama buat Amel, kamu tetap kakakku. -
NB: masih mencoba belajar membuat sebuah cerita narasi-deskriptif, kritik n saran are welcome :)
(cerita ini diadaptasi dari kisah nyata penulis, nama-nama dalam cerita ini tidak semuanya asli)
(cerita ini diadaptasi dari kisah nyata penulis, nama-nama dalam cerita ini tidak semuanya asli)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar