WELCOME TO METAPHOR CENTER, TAKE YOUR TIME

Jumat, 21 Oktober 2011

hidup bagaikan sebuah piano

Piano, sebuah alat musik yang memberikan nuansa klasik yang kental, mewah, dan elegan. Piano terdiri dari jejeran tuts yang membantunya mengeluarkan bunyi-bunyi yang indah. Tuts piano memiliki dua warna yang begitu kontras, yaitu hitam dan putih. Untuk bisa memainkan musik yang baik dengan sebuah piano, seorang pianis harus memainkan tuts-tuts yang ada pada piano, tanpa peduli warna apa tuts yang harus ditekannya. Tidak mungkin seorang pianis menghindari nada-nada pada tuts hitam hanya karena ia tidak suka warna hitam, dan begitu pula sebaliknya.
Tanpa ada keselarasan antara tuts hitam dan putih, sebuah piano tidak akan menghasilkan musik yang baik.

Begitu pula hidup manusia. Jika kita adalah sebuah piano, kita akan memiliki serangkaian tuts hitam dan putih dalam hidup kita. Terkadang kita mendapat pujian-pujian yang meninggikan kita, terkadang kita dihina, dicemooh, dan mendapat penolakan atas perbuatan kita. Terkadang kita berhasil, terkadang kita terpuruk. Terkadang kita senang, terkadang kita sedih. Segala hal yang baik dalam hidup kita melambangkan tuts putih pada sebuah piano, dan segala hal buruk yang kita alami melambangkan tuts hitam pada piano. Kita selalu menerima hal-hal baik dengan tanggapan baik, dengan penuh senyuman, dan seolah hal itu membangkitkan kembali hidup kita. Namun saat kita mengalami hal yang buruk, tak jarang kita emosi, menyalahkan orang lain bahkan Tuhan, dan menolak kenyataan.


Hidup yang baik tidak selamanya mengalami hal-hal yang baik. Hidup yang baik adalah hidup yang dapat mengatur dan mengelola hal baik dan buruk dalam hidupnya, dimana setiap hal baik akan memberikan semangat, dan setiap hal buruk akan memotivasi. Hiduplah seperti bermain piano. Jangan coba untuk menghindari tuts hitam dalam hidupmu, mainkanlah setiap tuts dengan bijaksana. Jika kau menguasai dasar lagunya, kau akan mulai memvariasikannya dengan caramu sendiri.


:hidup bagaikan sebuah piano dengan tuts hitam-putihnya



author: unknown

Tidak ada komentar:

Posting Komentar