WELCOME TO METAPHOR CENTER, TAKE YOUR TIME

Minggu, 16 Oktober 2011

~tanpa judul~

ntahlah, pemikiran ini hanya terlintas di benakku saat aku tengah memandangi pintu di ruangan ini. Ya, mengenai filosofi akan jarak pandang.

'aku berdiri sekitar 2 meter di depan pintu, memandang ke depan, dan aku melihat...ya, sebuah pintu secara utuh

kemudian aku melangkah maju dan berdiri sekitar satu meter dari pintu itu, dan aku masih melihat sebuah pintu, utuh

kemudian aku melangkah maju dan mendekatkan mataku pada pintu itu. Aku tak lagi melihat sebuah pintu. Ya, aku tau di depanku ada pintu, tapi aku tak melihatnya sebagai pintu pada jarak pandang yang begitu dekat. Aku hanya melihat sebidang kayu dan untuk mengetahuinya sebagai sebuah pintu, aku harus memeriksa setiap sisinya. Pintu itu seolah menyembunyikan dirinya dari hadapanku.'

lalu, apa bagusnya kata-kata diatas?


Sekarang anggaplah pintu itu adalah orang yang kita sayang, misalkan pacar.
'saat kita dekat dengannya, kita mampu menyayanginya secara utuh

kita mencoba untuk lebih dekat dengannya dan kita mulai mencintainya secara utuh

tapi jika kita terlalu dekat dengannya dan tak ingin jauh darinya, maka kita tak bisa lagi menyayangi dan mencintainya secara utuh. Kita menjadi protektif dan mulai memberi batasan-batasan baginya, dan mungkin saja apa yang dekat dengannya dirasa sebagai ancaman bagi kita. Batasan-batasan ini kemudian membuat pacar kita seolah menghilang dan bersembunyi dari kita. Padahal kita tau, dia tak pernah jauh dari kita dan selalu ada di dekat kita, tapi kita tak mampu lagi merasakan keberadaannya secara utuh.'


aku ga tau, pembaca ngerti ato ga dengan post ini. Tapi intinya, menjaga suatu hubungan, ga harus lengket luar dalam kaya double-tape, tapi harus dengan rasa percaya dan saling menghargai satu sama lain. Sebab seerat apapun hubungan manusia, setiap pribadi punya dunianya masing-masing yang ingin dinikmatinya. :)



author: ~d'CoffeeSheepz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar