WELCOME TO METAPHOR CENTER, TAKE YOUR TIME

Minggu, 16 Oktober 2011

membentuk pribadi manusia bagaikan membuat espresso yang baik

sore itu aku memarahi temanku dan dengan tegas berkata, 'ini untuk kebaikan kamu juga'..sekarang, coba kalian flashback kehidupan kalian, pernahkah kalian memarahi seseorang dan dengan tegas berkata-kata seperti itu? atau pernahkah kalian memarahi seseorang dalam setiap kesalahannya, dan berharap emosi kalian dapat menghentikan kesalahannya?

teman-teman, post ini hanya semata-mata karena aku menemukan suatu kesamaan antara cara membentuk pribadi manusia dan cara membuat espresso.

sebelumnya kujelaskan dulu, setelah aku browsing di google, aku menemukan satu bagian pada mesin kopi yang disebut portafilter. Ini adalah bagian pada mesin kopi, tempat menampung bubuk kopi yang hendak diolah lebih lanjut menjadi espresso. Peraturannya adalah, bubuk kopi yang dimasukkan dalam portafilter tidak boleh terlalu renggang, agar kopi tidak terlalu cair dan dapat menghasilkan cita rasa kopi yang pas dengan aroma khasnya. Maka, untuk bisa menghasilkan kopi yang baik, dibutuhkan sedikit tekanan untuk memadatkan bubuk kopi dalam portafilter. Bagian tersulitnya adalah, bubuk kopi dalam portafilter juga tidak boleh terlalu padat, supaya kopi yang dihasilkan tidak terlalu berminyak dan asam.

Ok, sekian dulu penjelasan mengenai pembuatan kopi, sekarang masuk ke dalam inti pembahasan.

Manusia bagaikan kopi dalam portafilter. Tanpa tekanan, manusia tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Tanpa ada tekanan dalam hidupnya, seorang manusia mungkin tumbuh menjadi orang yang manja, tidak konsisten, plin-plan, dan sebagainya. Itulah sebabnya, orang tua sering memberikan tekanan secara mental kepada anak-anaknya dengan maksud membentuk pribadi yang kuat pada anaknya, begitu pula seorang sahabat kepada sahabatnya. Tapi, tekanan yang berlebihan pun tidak baik. Jika kita memberikan tekanan yang terlalu besar pada orang lain, dan menjadikan 'marah' sebagai sarana utama untuk memberikan tekanan hidup kepada seseorang, itu bisa saja membunuh karakter orang yang diberikan tekanan. Buruknya, mungkin saja terbiasa hidup dalam marah-marah membuat orang tersebut menjadi orang yang temperamen dan kasar.

Marah-marah itu sah-sah saja dan tidak salah. Tapi harus dilakukan dengan cara yang tepat. Jangan berpikir marah-marah bisa menyadarkan orang lain akan salahnya. Setidaknya berikanlah dia timbal balik. Sesudah puas memarahi seseorang, bertanggung jawablah dengan memberikannya pengarahan akan apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki kesalahannya. Jangan habis marah langsung pergi. Sebab dengan pergi meninggalkannya, apa kamu pikir dia bisa memperbaiki kesalahannya? Dia bahkan tidak tau bagaimana sebenarnya yang kita mau.


;pribadi manusia terbentuk karena ada timbal balik dari orang-orang di sekitarnya, bukan emosi



author: ~d'CoffeeSheepz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar