WELCOME TO METAPHOR CENTER, TAKE YOUR TIME

Selasa, 01 November 2011

sepasang alas kaki

Teman, coba lihat sepasang alas kaki yang kalian kenakan, bisa sepatu ataupun sendal kalian. Lihat mereka baik2, apa mereka sama? ga kan? sepatu n sendal dibuat masing-masing untuk dipakai hanya pada satu sisi. Ga ada sepatu atau sendal yang bisa dipakai pada dua sisi, bisa fleksibel dikenakan di kiri dan di kanan. Betul bukan? Tapi, meskipun berbeda, kedua sepatu n sendal tersebut tetap saling melengkapi. Meskipun tak melangkah bersama, tapi tetap satu tujuan, dan betapa saling terikatnya mereka, karena tanpa pasangannya, sebuah sepatu atau sendal tak lagi berarti.

Pernahkah kalian menemukan kesetiaan yang begitu kuat antar sepasang manusia? baik antar sahabat maupun kekasih? Sungguh sulit menemukan pasangan yang belajar dari alas kaki.


Ya, sahabat, maupun kekasih, baiknya belajar dari kesetiaan ini. Mereka pasti berbeda dan tidak sama. Tapi selayaknya mereka bisa saling melengkapi, bukan malah saling meniadakan ke-khasan masing-masing dan mengubah pribadi pasangannya. Meskipun sering beda pendapat hingga terjadi pertengkaran, baiknya mereka tetap berusaha menemukan jalan terbaik untuk menemukan titik tengah perbedaannya, bukannya malah memisahkan diri dan berjalan masing-masing. Jika ditemukan titik tengahnya, maka pasangan itu dapat berjalan bersama lagi menuju satu tujuan yang sama.

Dan yang utama, baiklah jika kalian saling menghargai, dan karena saling melengkapi, hingga jika salah satu dari kalian merasa susah, maka kalian akan menolongnya, bukan membiarkannya hancur. Sebab jika salah seorang dari kalian telah tiada, kalian akan merasa kehilangan dan tak berarti lagi. Itulah kasih yang besar dan kesetiaan yang besar yang bisa dipelajari dari sepasang alas kaki.



author : unknown (by message from Angel Hwang)

Jumat, 21 Oktober 2011

hidup bagaikan sebuah piano

Piano, sebuah alat musik yang memberikan nuansa klasik yang kental, mewah, dan elegan. Piano terdiri dari jejeran tuts yang membantunya mengeluarkan bunyi-bunyi yang indah. Tuts piano memiliki dua warna yang begitu kontras, yaitu hitam dan putih. Untuk bisa memainkan musik yang baik dengan sebuah piano, seorang pianis harus memainkan tuts-tuts yang ada pada piano, tanpa peduli warna apa tuts yang harus ditekannya. Tidak mungkin seorang pianis menghindari nada-nada pada tuts hitam hanya karena ia tidak suka warna hitam, dan begitu pula sebaliknya.
Tanpa ada keselarasan antara tuts hitam dan putih, sebuah piano tidak akan menghasilkan musik yang baik.

Begitu pula hidup manusia. Jika kita adalah sebuah piano, kita akan memiliki serangkaian tuts hitam dan putih dalam hidup kita. Terkadang kita mendapat pujian-pujian yang meninggikan kita, terkadang kita dihina, dicemooh, dan mendapat penolakan atas perbuatan kita. Terkadang kita berhasil, terkadang kita terpuruk. Terkadang kita senang, terkadang kita sedih. Segala hal yang baik dalam hidup kita melambangkan tuts putih pada sebuah piano, dan segala hal buruk yang kita alami melambangkan tuts hitam pada piano. Kita selalu menerima hal-hal baik dengan tanggapan baik, dengan penuh senyuman, dan seolah hal itu membangkitkan kembali hidup kita. Namun saat kita mengalami hal yang buruk, tak jarang kita emosi, menyalahkan orang lain bahkan Tuhan, dan menolak kenyataan.


Hidup yang baik tidak selamanya mengalami hal-hal yang baik. Hidup yang baik adalah hidup yang dapat mengatur dan mengelola hal baik dan buruk dalam hidupnya, dimana setiap hal baik akan memberikan semangat, dan setiap hal buruk akan memotivasi. Hiduplah seperti bermain piano. Jangan coba untuk menghindari tuts hitam dalam hidupmu, mainkanlah setiap tuts dengan bijaksana. Jika kau menguasai dasar lagunya, kau akan mulai memvariasikannya dengan caramu sendiri.


:hidup bagaikan sebuah piano dengan tuts hitam-putihnya



author: unknown

R.I.P Yue Yue

Hari ini, dunia telah kehilangan seorang anak balita yang tak berdosa. Apa yang telah dialami oleh Yue Yue bukanlah hal yang biasa. Ditabrak, dilindas, tergeletak di jalan tanpa mampu berbuat apa-apa, namun tak dipedulikan oleh orang banyak. Kita berpikir, betapa kejamnya dunia ini hingga nyawa seorang balita yang tak berdaya pun tak ada yang memperdulikannya. Yue Yue mungkin sudah bisa tenang di surga bersama Tuhan, tak lagi bertemu setiap orang yang tak mempedulikannya, dan tak lagi bertemu mobil yang akan menabraknya. Di surga ia akan berjalan bersama Tuhan tanpa rasa takut.

Kejadian yang menggemparkan dunia ini secara tidak langsung menegur setiap manusia untuk bisa sedikit lebih peduli kepada orang lain di sekitarnya. Dalam peristiwa ini, seorang ibu sederhana memiliki hati lebih mulia untuk mau menolong Yue Yue dibandingkan setiap orang yang sibuk akan kepentingan dirinya.


Mulai saat ini, bukalah mata bagi lingkungan di sekitarmu, bukalah hati untuk bisa saling menolong. Lakukan yang bisa kau lakukan dan jangan menunggu orang lain yang memulainya. Sebab saat kau menyia-nyiakan orang yang butuh bantuanmu, kau hanya menabur benih penyesalan untuk kau tuai di kemudian hari.



21 Oktober 2011 - goodbye Yue Yue, there'll be no more cars in heaven -

Kamis, 20 Oktober 2011

Hidup adalah Emas

Teman-teman pasti tau apa itu emas. Emas adalah logam mulia yang terkandung di dalam bumi, memiliki nilai keindahan yang tinggi, dan merupakan logam termahal di dunia yang diperjual belikan dalam bentuk perhiasan dan investasi.

Tapi taukah teman-teman sekalian bagaimana memurnikan sebongkah batu emas yang kotor dan menjadikannya emas yang berharga lebih? Sebongkah emas yang digali dari hasil tambang harus melalui proses pemurnian dimana emas harus dibakar dengan suhu tinggi hingga meleleh, dicampurkan dengan beberapa cairan kimia untuk membersihkannya.


Dewasa ini, tak sedikit manusia mengeluh akan hidup yang berat, penderitaan, dan cobaan yang dialami. Diwaktu yang bersamaan, keadaan ini mengurangi jumlah orang yang bersyukur akan kehidupannya. Setiap kehidupan manusia adalah emas bagi dunia, dan untuk bisa menambah nilai pada emas itu, setiap manusia juga harus dimurnikan agar menjadi lebih baik. Cobaan, penderitaan, penolakan yang dialami manusia selama hidupnya adalah api yang digunakan Tuhan untuk memurnikan hidup manusia. Tanpa api itu, tidak akan ada penambahan nilai hidup seorang manusia.

Pengalaman adalah guru yang paling keras. Ia meminta kita melakukan praktek terlebih dahulu, baru menjelaskan teorinya. Tidak seperti sekolah, dimana guru kita memberikan teori terlebih dahulu baru praktek. Pengalaman pahit membentuk kita menjadi lebih baik, dan pengalaman baik membentuk kita menjadi pribadi yang penuh syukur.


Segala yang baik dihasilkan dari penderitaan, maka syukurilah penderitaan yang kau alami, karena itu membuatmu semakin baik.



author: ~d'CoffeeSheepz

Rabu, 19 Oktober 2011

sukses? sama seperti memasak

Sore ini aku melihat teman-teman kantorku makan belimbing, ada juga yang makan bakso, ada juga yang makan cap chai, dsb. Kuperhatikan apa yang mereka makan dan berpikir, mengapa Tuhan tak langsung menciptakan pohon makanan, tapi malah menciptakan pohon buah-buahan dan sayur-sayuran, lalu menciptakan hewan? Bukankah lebih mudah mendapatkan makanan jika setiap orang memiliki taman makanan? Bukankah dengan begitu tidak ada lagi manusia yang tidak mendapat makanan karena makanan bisa dipetik dari pepohonan? Sejenak aku merenungkan hal ini dan berpikir kembali, mengait-ngaitkannya dengan hal-hal lain dalam hidup.

Pemikiranku, mengharapkan segala sesuatu di dunia ini bisa berlangsung secara instan. Tuhan tidak suka itu, maka Tuhan menciptakan sayur mayur dan buah-buahan serta tanaman-tanaman lain untuk dapat dijaga manusia dan diolah menjadi makanan yang dapat mereka santap sehari-hari. Tuhan ingin manusia berusaha, mencoba, dan berinovasi dengan kreativitasnya. Meskipun kini manusia tetap menjalankan pengembangan menuju kehidupan dengan teknologi yang kelak akan membuat segalanya menjadi instan, tapi tidak akan ada satupun buatan manusia yang berguna secara instan.


Aku memusatkan perhatianku ke dunia bisnis, maka aku membahasnya disini. Tuhan tidak menciptakan semua orang kaya. Tuhan ingin manusia berusaha untuk bisa kaya. Sama seperti memasak, ada bahan-bahan dari alam yang digunakan, bersama sedikit bumbu-bumbu racikan kimia. Jika resep yang digunakan tepat dan cara pembuatannya benar, akan tercipta makanan yang lezat. Dalam bisnis juga begitu, ada rekan dan teman, juga lingkungan, yang disediakan alam, dan sedikit kemampuan otak, modal, dan usaha dari dalam diri sendiri. Jika bisa memanfaatkan apa yang kita miliki, kita akan sukses dan menjadi kaya. Tapi, butuh sedikit pengaturan untuk bisa memanfaatkan bahan-bahan kesuksesan dan mengolahnya menjadi sebuah kesuksesan. Jika dalam dunia memasak, kita membutuhkan alat, bisa pisau, spatula, kuali, dsb. Jika dalam dunia bisnis, kita butuh inovasi, kreatifitas, dan inspirasi. Setiap manusia yang sukses pasti berinovasi melalui pemikiran-pemikiran kreatifnya dan melalui inspirasi-inspirasi yang ia dapatkan diluar dirinya. Inilah alat-alat dalam menciptakan sebuah kesuksesan. Dan untuk penghias, tambahkan sedikit senyum dan kesabaran di dalam piring kesuksesan.


author: ~d'CoffeeSheepz

Selasa, 18 Oktober 2011

bangkai dan benci tidaklah berbeda

Pernahkah teman-teman semua mencium aroma busuk dari bangkai? Menurut kalian, apa baunya tercium begitu sedap? Jawabannya pasti tidak. Lalu apa yang menyebabkan jasad makhluk hidup bisa membusuk? Tak lain dan tak bukan karena dibiarkan terlalu lama dan tidak dibuang atau dikubur dalam-dalam.

Hal serupa berlaku pada kebencian. Kebencian yang disimpan terlalu lama dalam hati suatu saat akan membusuk. Harus ada niat dari orang yang bersangkutan untuk membuang rasa benci itu jauh-jauh, atau menguburnya hingga tak terlihat lagi. Jika kebencian dalam hati sudah mulai membusuk, maka diri kita yang dipenuhi kebencian pun akan menjadi busuk. Semakin banyak kita menyimpan benci dalam hati, semakin busuk hidup kita. Oleh sebab itu baiklah jika kita bisa membuang kebencian jauh-jauh atau mengubur segala benci dengan tanah kasih. Sebab seperti bangkai yang busuk, jika dikuburkan dalam tanah akan menambah kesuburan tanah, maka kebencian yang dikubur dengan kasih akan meningkatkan keeratan persahabatan dan jalinan kasih antar sesama manusia.


Mulai sekarang, buanglah benci, kuburkan dengan kasih, biarkan kasih bertumbuh subur dalam hatimu.


author: unknown

menanggapi insiden kota Foshan, Cina Selatan

Post kali ini mengutip kejadian yang terjadi di kota Foshan, Cina Selatan, Kamis, 13 Oktober lalu, yang menimpa seorang balita berumur 2 tahun bernama Yue Yue. Kronologis kejadian adalah dimana Yue Yue yang kala itu sedang berjalan di daerah pertokoan di kota Foshan tertabrak sebuah van dan dilindas dua kali oleh mobil van tersebut, disusul sebuah truk yang melindas kakinya beberapa saat kemudian. Tragisnya, sekitar 18 orang yang berlalu lalang di sekitar TKP tidak ada yang mempedulikan keadaan Yue Yue yang sudah sekarat, hingga akhirnya Chen Xianmei, salah seorang pejalan kaki membawa badan Yue Yue ke tepi jalan dan mencari bantuan serta kedua orang tua Yue Yue sehingga kedua orang tua Yue Yue yang membuka usaha pertokoan di kawasan tersebut tau dan sadar bahwa anak mereka sudah sekarat. (Kronologis lengkap dapat dilihat di Youtube)

Aku udah coba googling ke beberapa sumber informasi mengenai berita ini, dan komentar-komentar yang dapat kutemukan saat mencari artikel mengenai kejadian ini adalah kata-kata kasar serta sumpah-sumpah serapah yang ditujukan kepada setiap pejalan kaki yang membiarkan Yue Yue tergeletak di tengah jalan dengan kondisi yang sekarat. Namun, setelah ditelusuri lagi, ternyata memang ada faktor psikologis manusia yang disebut 'Bystander Effect', yang menjelaskan hal ini terjadi.

'Bystander Effect' dapat disimpulkan sebagai sikap manusia yang dimana secara tidak langsung mengutamakan kepentingannya dan meninggalkan hal lain yang mungkin bersifat darurat karena faktor lingkungan yang ramai. Pemikiran seperti ini memicu adanya ketergantungan kepada pihak lain (orang-orang di sekitarnya) untuk menangani keadaan darurat tersebut. Pasti teman-teman juga pernah bersikap seperti ini, misalnya di jalan, pengendara di depan kita kecelakaan, secara spontan kita akan kaget dan menghindar bukan? Kemudian setelah terhindar, dengan fokus dan kegiatan yang sudah tersusun dalam pikiran kita, dan dengan kondisi jalanan yang ramai pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor, akankah kita turun dan menolong? Mungkin saat melihat ada seorang pejalan kaki menghampirinya, kita sudah mulai berfikir, ada orang lain yang bisa menolongnya, biarkan sajalah. Ini bukan bermaksud menuduh teman-teman, tapi sikap ini muncul tanpa disadari. Percayalah.

Nah, bagaimana dengan orang-orang yang berada di sekitar Yue Yue saat itu? Mereka juga melihat kondisi pasar yang ramai, sehingga mereka berpikir akan ada orang lain yang menolongnya. Mereka berfokus untuk membeli keperluan mereka, dan membiarkan orang lain yang bertindak. Namun sikap ini dikecam oleh orang-orang di seluruh belahan dunia, karena apa? Dalam konteks kejadian ini, dipertaruhkan nyawa seorang balita karena reaksi 'Bystander Effect'.


Teman-teman, aku secara pribadi juga ga sehati sepemikiran dengan pejalan kaki disana. Tapi mau bagaimana lagi, 'Bystander Effect' sudah cukup meluas di masyarakat dewasa ini. Jika kita berani mengecam para pejalan kaki itu, mengapa kita tidak mulai terlebih dahulu dengan mengecam diri kita, yang mungkin sudah melakukan hal yang sama, namun dengan lingkup yang kecil dan permasalahan yang lebih kecil, seperti memungut sampah? Memang, nyawa seorang balita tidak bisa dibandingkan dengan sebungkus plastik atau sampah lainnya. Tapi jika sampah-sampah dibiarkan, ini bukan hanya berhubungan dengan nyawa seorang manusia, tapi jutaan manusia.

Kita seringkali melihat objek sebagai patokan dan acuan seberapa besar sebuah masalah, saat objeknya sebesar manusia, kita menjadikannya masalah besar, dan jika objeknya hanya hal-hal kecil, kita menganggapnya sebuah masalah kecil. Mulai sekarang, lihatlah pada akibatnya, bukan objeknya. Segala perkara menjadi besar ketika dibiarkan begitu saja. Kita tidak mungkin menghindari 'Bystander Effect' karena memang merupakan salah satu bagian psikologi manusia, yang bisa kita lakukan hanyalah mengurangi persentase timbulnya sikap ini dalam hidup kita.


Berhenti menilai diri orang lain, nilailah terlebih dahulu diri sendiri.

Bagi pembaca, teman-teman sekalian, mari kita doakan kesembuhan Yue Yue dari komanya, dan diselamatkan dari maut. Mari mohonkan kuasa Tuhan bekerja atasnya.


by: ~d'CoffeeSheepz

Minggu, 16 Oktober 2011

~tanpa judul~

ntahlah, pemikiran ini hanya terlintas di benakku saat aku tengah memandangi pintu di ruangan ini. Ya, mengenai filosofi akan jarak pandang.

'aku berdiri sekitar 2 meter di depan pintu, memandang ke depan, dan aku melihat...ya, sebuah pintu secara utuh

kemudian aku melangkah maju dan berdiri sekitar satu meter dari pintu itu, dan aku masih melihat sebuah pintu, utuh

kemudian aku melangkah maju dan mendekatkan mataku pada pintu itu. Aku tak lagi melihat sebuah pintu. Ya, aku tau di depanku ada pintu, tapi aku tak melihatnya sebagai pintu pada jarak pandang yang begitu dekat. Aku hanya melihat sebidang kayu dan untuk mengetahuinya sebagai sebuah pintu, aku harus memeriksa setiap sisinya. Pintu itu seolah menyembunyikan dirinya dari hadapanku.'

lalu, apa bagusnya kata-kata diatas?


Sekarang anggaplah pintu itu adalah orang yang kita sayang, misalkan pacar.
'saat kita dekat dengannya, kita mampu menyayanginya secara utuh

kita mencoba untuk lebih dekat dengannya dan kita mulai mencintainya secara utuh

tapi jika kita terlalu dekat dengannya dan tak ingin jauh darinya, maka kita tak bisa lagi menyayangi dan mencintainya secara utuh. Kita menjadi protektif dan mulai memberi batasan-batasan baginya, dan mungkin saja apa yang dekat dengannya dirasa sebagai ancaman bagi kita. Batasan-batasan ini kemudian membuat pacar kita seolah menghilang dan bersembunyi dari kita. Padahal kita tau, dia tak pernah jauh dari kita dan selalu ada di dekat kita, tapi kita tak mampu lagi merasakan keberadaannya secara utuh.'


aku ga tau, pembaca ngerti ato ga dengan post ini. Tapi intinya, menjaga suatu hubungan, ga harus lengket luar dalam kaya double-tape, tapi harus dengan rasa percaya dan saling menghargai satu sama lain. Sebab seerat apapun hubungan manusia, setiap pribadi punya dunianya masing-masing yang ingin dinikmatinya. :)



author: ~d'CoffeeSheepz

membentuk pribadi manusia bagaikan membuat espresso yang baik

sore itu aku memarahi temanku dan dengan tegas berkata, 'ini untuk kebaikan kamu juga'..sekarang, coba kalian flashback kehidupan kalian, pernahkah kalian memarahi seseorang dan dengan tegas berkata-kata seperti itu? atau pernahkah kalian memarahi seseorang dalam setiap kesalahannya, dan berharap emosi kalian dapat menghentikan kesalahannya?

teman-teman, post ini hanya semata-mata karena aku menemukan suatu kesamaan antara cara membentuk pribadi manusia dan cara membuat espresso.

sebelumnya kujelaskan dulu, setelah aku browsing di google, aku menemukan satu bagian pada mesin kopi yang disebut portafilter. Ini adalah bagian pada mesin kopi, tempat menampung bubuk kopi yang hendak diolah lebih lanjut menjadi espresso. Peraturannya adalah, bubuk kopi yang dimasukkan dalam portafilter tidak boleh terlalu renggang, agar kopi tidak terlalu cair dan dapat menghasilkan cita rasa kopi yang pas dengan aroma khasnya. Maka, untuk bisa menghasilkan kopi yang baik, dibutuhkan sedikit tekanan untuk memadatkan bubuk kopi dalam portafilter. Bagian tersulitnya adalah, bubuk kopi dalam portafilter juga tidak boleh terlalu padat, supaya kopi yang dihasilkan tidak terlalu berminyak dan asam.

Ok, sekian dulu penjelasan mengenai pembuatan kopi, sekarang masuk ke dalam inti pembahasan.

Manusia bagaikan kopi dalam portafilter. Tanpa tekanan, manusia tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Tanpa ada tekanan dalam hidupnya, seorang manusia mungkin tumbuh menjadi orang yang manja, tidak konsisten, plin-plan, dan sebagainya. Itulah sebabnya, orang tua sering memberikan tekanan secara mental kepada anak-anaknya dengan maksud membentuk pribadi yang kuat pada anaknya, begitu pula seorang sahabat kepada sahabatnya. Tapi, tekanan yang berlebihan pun tidak baik. Jika kita memberikan tekanan yang terlalu besar pada orang lain, dan menjadikan 'marah' sebagai sarana utama untuk memberikan tekanan hidup kepada seseorang, itu bisa saja membunuh karakter orang yang diberikan tekanan. Buruknya, mungkin saja terbiasa hidup dalam marah-marah membuat orang tersebut menjadi orang yang temperamen dan kasar.

Marah-marah itu sah-sah saja dan tidak salah. Tapi harus dilakukan dengan cara yang tepat. Jangan berpikir marah-marah bisa menyadarkan orang lain akan salahnya. Setidaknya berikanlah dia timbal balik. Sesudah puas memarahi seseorang, bertanggung jawablah dengan memberikannya pengarahan akan apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki kesalahannya. Jangan habis marah langsung pergi. Sebab dengan pergi meninggalkannya, apa kamu pikir dia bisa memperbaiki kesalahannya? Dia bahkan tidak tau bagaimana sebenarnya yang kita mau.


;pribadi manusia terbentuk karena ada timbal balik dari orang-orang di sekitarnya, bukan emosi



author: ~d'CoffeeSheepz

perfect = imperfect + love

Malam ini pacarku menangis karena memikirkan ketidak sempurnaannya, dan aku juga memang merasa bahwa apa yang dipikirkannya benar. Ia tidak sempurna. Tapi tidak jarang pula aku membohonginya dengan menyebutnya gadis yang sempurna. Kupikir-pikir, sampai kapan aku akan membohongi dirinya dan juga diriku dengan kata-kata gombal itu? Hingga akhirnya aku memikirkan satu hal yang bisa mengungkap jawaban dari pertanyaan ini.

Jawaban atas pertanyaan ini ada jauh di atas langit, berupa sebuah bulatan putih yang terang di malam hari, yaitu bulan. Tak jarang orang menyebutnya indah, cantik, bagus, dan sebagainya. Ada beberapa diantara mereka mungkin tidak menyadari bagaimana bulan sebenarnya, tapi kebanyakan dari mereka tau bagaimana sebenarnya sosok bulan itu, hanya saja mereka tidak memperdulikannya. Bulan itu memiliki permukaan yang hancur dan sama sekali tak menarik dipandang. Bulan itu benda langit yang sama seperti meteor, memiliki bentuk yang tidak sempurna dan abstrak. Tidak begitu bulat karena permukaannya yang tidak rata. Tapi coba pandangi bulan dari teras rumahmu, bulan terlihat membulat begitu sempurna karena memantulkan cahaya matahari.


Begitu pula aku, mungkin kita, yang sering mengatakan pasangan kita sempurna. Sebenarnya kita tidak membohongi mereka, juga diri kita. Pasangan kita adalah bulan, kita adalah pengamat, dan kasih sayang adalah cahaya matahari. Pasangan kita bukan makhluk yang sempurna, dan kita sadar akan itu. Lalu mengapa kita berusaha bertahan dalam ketidak sempurnaan? Mengapa tidak mencari kesempurnaan saja? Alasannya adalah karena sebagai pengamat di bumi, kita tidak perduli dengan bentuk asli sang bulan. Kita tidak perduli dengan ketidak sempurnaan pasangan kita, dan satu-satunya alasan untuk itu hanyalah karena kita memiliki kasih sayang yang besar, yang merupakan cahaya matahari bagi bulan yang tak sempurna. Pasangan kita memantulkan cahaya kasih kita, sehingga menutupi semua ketidak sempurnaannya. Sesungguhnya ia tidak sempurna, tapi ia menjadi sempurna karena ketulusan hatinya membalas kasih kita, dan memberikan kasihnya kepada kita. Itulah pasangan yang sempurna, karena ketidak sempurnaannya.


;kesempurnaan adalah ketidak sempurnaan + kasih



author: ~d'CoffeeSheepz

pasangan hidup yang baik bagai kasur yang nyaman

Malam ini, aku tanpa sadar melakukan sesuatu yang bisa dibilang ga biasa kulakukan. Baru pulang nih dari rumah Betang, kupikir-pikir mau istirahat, ya aku baring-baring di kasur kamarku. Kasur ini memang sudah cukup tua, sudah mulai rusak dan saat berbaring, aku dapat merasakan keberadaan pegas-pegas besar di dalamnya. Kusadari semua tanda-tanda penuaan pada kasurku itu dan beranjak turun, melihat kasur di kamar orang tuaku yang masih baru dan mewah. Kemudian aku berbaring disana dan merasakan hal-hal yang bertolak belakang dengan apa yang kurasakan dengan kasurku. Kemudian aku mencoba untuk tidur disana, tapi sekuat apapun aku memejamkan mata, aku sama sekali tak bisa tertidur, bahkan di kasur sebaik ini. Aku berpikir, biasanya, cuma sebentar kupejamkan mataku di kasur kamarku, aku sudah terlelap ntah kemana-mana.

Nah, kita semua pasti punya kasur masing-masing di kamar, ntah itu harus berbagi ataupun tidak, pasti kita sudah sering merasakan bagaimana tidur di atas kasur tersebut. Berapa banyak pembaca post ini yang merupakan anak perantauan dan tinggal di kost? Jika ada, seberapa sering kalian merindukan kasur di kamar kalian? Pasti seburuk apapun kondisi kasur di kamar kita, kita akan tetap merindukannya bukan? Ya, karena kita merasa nyaman beristirahat diatasnya.


Begitu pula aku mau mengaitkan ini dengan hal mencari pasangan hidupmu. Bukan dengan mencari yang bagus parasnya, tebal dompetnya, besar namanya, ataupun yang besar hokinya. Percuma kalau punya pasangan yang sempurna dimata masyarakat, atau dunia sekalipun, tapi tidak bisa membuat kita merasa nyaman di dekatnya. Tidak bisa menjadi tempat sandaran kita disaat kita lelah dan butuh tempat peristirahatan. Pasangan yang baik bukan dilihat dari apa yang bisa dilihat. Carilah pasangan yang dapat membuatmu merasa nyaman di dekatnya, yang bisa menopangmu disaat lelah dan menggendongmu disaat kau tak mampu lagi melawan arus hidupmu. Carilah pasangan yang dapat kau rindukan disaat apapun, dan tak tergantikan meskipun banyak lawan jenis yang mempesona hadir di hadapanmu.

;Carilah kasur yang nyaman, bukan kasur yang mewah;



author: ~d'CoffeeSheepz