WELCOME TO METAPHOR CENTER, TAKE YOUR TIME

Kamis, 04 Oktober 2012

Sekeping Kebeng

- 6 hari t'lah berlalu sejak hari perpisahan itu. Hampir seminggu aku menjalani hidup sebagai manusia setengah pengangguran. Bangun awal, olahraga, menikmati indahnya pagi bersama segelas kopi, bersih-bersih diri, dan kemudian membuang-buang waktu dengan menonton acara-acara tak bermutu di stasiun televisi apapun yang dapat dilacak antena kecil di rumahku yang kecil hingga mood kerjaku datang dan aku mulai mengerjakan pekerjaan freelanceku.

Terkadang aku merindukan masa-masa itu, dimana aku memiliki susunan kegiatan yang jelas, bekerja pada sebuah hotel bintang tiga di kota kelahiranku sebagai seorang staff accounting. Dimana setiap pagi aku akan melihat berbagai orang dengan kepribadian, ras, suku, dan kesibukan yang berbeda berjalan melalui lobby hotel, menghampiri resepsionis dan berkata "cek out ya", kemudian bergegas ke cafe untuk menyantap sarapannya. Menyapa karyawan-karyawan hotel dengan senyumanku yang err...tidak begitu manis. Sungguh suasana kerja yang tak terlupakan bagiku.

Satu lagi yang tidak akan pernah kulupakan semasa aku bekerja disana, yaitu kebeng yang selalu kusantap dikala aku merasa lapar sebelum jam istirahat tiba atau sebelum jam pulang mengusirku dari ruangan accounting, yang ditawarkan oleh Amel. -

---------------------------------------------------------------------------------

Pagi itu, aku tiba di kantor dengan pakaian yang rapi. Sungguh tak seperti aku, bahkan cermin di rumahku sepertinya tidak merefleksikan diriku yang sebenarnya. Aku yang biasa mengenakan jeans lusuh dan kaos oblong serta sepatu kets sebagai alas kaki, kini menggunakan celana kain warna gelap, kemeja lengan panjang yang disetrika dengan rapi, dan sepatu pantofel ciri khas bapak-bapak kantoran. Ya, hari ini adalah hari pertamaku menjadi karyawan hotel Orchid, salah satu hotel berbintang tiga yang sudah dikenal baik oleh banyak orang di kota kecil ini.

Dengan penuh kesiapan aku berjalan menuju mesin absen, menekankan jempol kananku pada sensor kecil mesin absen hotel tersebut hingga berbunyi "Thank You", dan segera naik ke lantai 3, menuju ruang yang sudah diitunjukkan padaku pada saat aku diterima bekerja. Jarum jam di arlojiku masih menunjukkan pukul 07:30 waktu itu, padahal jam kerja dimulai pada pukul 08:00. "Apa aku datang terlalu awal? Apa udah ada orang dalam ruangan?" pikiran itu terus menghantuiku sampai akhirnya aku tiba pada ruang tersebut, ruang accounting yang terpencil namun nyaman, dan disambut oleh Amel, salah satu pemegang kunci ruangan yang sekaligus merupakan seorang finance controller di hotel ini.

"Anak baru ya?" sapanya pelan. "Eh, iya," jawabku pelan pula, mencoba menyesuaikan volume suaraku dengannya. Kami kemudian berjabat tangan dan memperkenalkan diri masing-masing. "Andi," kataku. "Amel," begitu pula jawabnya, singkat, sepertinya dia juga mencoba menyesuaikan jawabannya denganku, sama-sama empat huruf, dan diawali dengan tekanan yang sama. Hah, sudahlah, lagipula apalah artinya sebuah nama.

"Duduklah dulu disana tuh, masih awal, masih sepi, baca-baca jak dulu buku aturan accounting sambil nunggu yang lain datang," katanya padaku. "Iya," jawabku. Akupun duduk di kursi yang ditunjuk Amel dan membaca buku yang disebutnya. Kuperhatikan jam tanganku, masih sekitar 25 menit lagi untuk si jarum kecil menyentuh angka 8. "(buku setipis ini pasti selesai dalam 5 menit, kalo udah habis, tapi lom ada orang, masa aku duduk membodoh disini?)" bisikku dalam hati. Kulihat ruangan tempat Amel duduk dan kuperhatikan Amel yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri. "(wanita aneh)" bisikku kembali dalam hatiku.

Beberapa menit kemudian, pintu ruangan berbunyi dan kulihat Lisa, dept. head accounting yang sudah kutemui sebelumnya pada saat interview, masuk melalui pintu kayu tersebut. Hah, taukah kamu? Mungkin aku adalah satu diantara semua staff accounting yang beruntung karena memiliki dept. head yang masih bagitu muda dan menawan. Melihat senyumnya sungguh membuka hariku dengan baik, bahkan kutulis di status bbmku "I'm feeling so lucky today". Hahaha...

Menit-menit berlalu, satu per satu staff accounting datang dan memulai kesibukannya masing-masing. Sepertinya kehadiranku bukanlah sesuatu yang "WOW", karena tidak ada yang peduli akan kehadiran makhluk baru dalam ruangan ini.

"Eii, ada anak baru aa, kenalan dulu lha," teriak Lisa kepada staff-staff lainnya. Aku pun mulai berkenalan dengan staff-staff accounting yang sangat bervariasi. Dari yang tinggi sampai pendek, kurus sampai gendut, ceplas ceplos sampai cool, bahkan yang normal sampai aneh pun ada. Sejenak aku ragu dapat bertahan dengan teman-teman baru seperti ini. Tapi ternyata beberapa hari bahkan beberapa bulan berlalu dengan baik dan berkesan bagiku.


----------------------------- beberapa hari kemudian ----------------------------

Aku mulai akrab dengan teman-teman seruanganku, terlebih karena ada Rendy, orang yang sudah kukenal sejak SMA. Meski tidak begitu akrab, tapi dia sangat berperan dalam membantuku untuk mengenal yang lain.

Dimulai dari Amel dan Lisa, kemudian Rendy, aku akhirnya mengenal Juwita a.k.a Juhi, gadis yang ntah bagaimana menjelaskan sikapnya. Dia penuh semangat dan emosi yang berapi-api, kurasa jiwa para pahlawan pada saat penjajahan banyak yang menetap dalam dirinya. Kemudian Tedy dan Ardi. Waktu itu Ardi udah mau berhenti dan Tedy adalah penggantinya. Mereka berdua sangat cocok kurasa. Sebagai teman tentunya, bukan sebagai pacar. Livi, gadis kerdil a.k.a kurcaci. Kesan pertama aku melihatnya seperti aku melihat seorang pemimpin Nazi yang terkenal, Adolf Hitler, yang senang marah-marah dan memerintah sana sini. Terkadang aku kasihan melihat Tedy yang setiap hari dimarahinya.

Ok, lanjut ke Frendy, collector dengan gayanya yang santai dan easy-going, seorang pet-lover sama sepertiku. Kami mulai suka berbincang mengenai anjing peliharaan setiap sebelum dia pergi menjalankan tugasnya. Terakhir, Aphink dan Ivan, 2 orang yang kurasa aneh, tapi menjadi teman pertamaku di Orchid. Ivan yang membawaku berkeliling hotel, dan Aphink yang menjadi guru privatku. Mereka aneh napa ya? Ivan, mungkin karena dia bukan orang yang tenang, selalu terburu-buru bahkan dalam berkata-kata. Sampai terkadang aku tak mengerti apa yang dikatakannya. Sedangkan Aphink...simplenya dapat kubilang kalo dia itu mirip bayi gede, polos, culun, dan sejenisnya.



-------------------------------- 5 bulan kemudian -------------------------------

Tak terasa, sudah 5 bulan aku bekerja disini. Rasa jenuh mulai terasa, bukan karena lingkungannya dan orang-orangnya yang membuat aku tak nyaman, tapi lebih karena kebebasanku yang berkurang semenjak aku bekerja disini. Amel adalah orang yang tau segala keluhanku selama bekerja di tempat ini. Berkali-kali aku menceritakan setiap keluhanku padanya dan ditanggapinya dengan pasrah. Satu-satunya alasan aku dekat sama Amel adalah karena dia merupakan sosok seorang kakak yang kuinginkan. Sister-complex yang kurasakan bisa kuobati dengan kehadiran Amel dalam 5 bulan ini.

Ini adalah bulan terakhir aku bekerja di Orchid karena aku sudah benar-benar mengajukan surat resignku. Pada bulan ini pulalah aku mulai melalui hari-hariku dengan minimal sekeping kebeng dari Amel. Kurasa hal ini bisa menjadi kenanganku dengan Amel yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Setiap pagi aku menikmati sekeping kebeng bersama Amel dan berbagi banyak canda tawa.

Padahal dari mulai bulan kedua aku bekerja di Orchid, aku sudah terlalu banyak menyantap kebeng yang sama dan semua terasa biasa saja. Aneh bagiku ketika pada saat-saat terakhir aku bekerja, setiap kepingan kebeng mulai memiliki arti yang mengukir cerita.

Kuingat pada satu hari, saat aku benar-benar kelaparan, aku cuma bisa berharap pada kebeng yang terletak dalam ruangan Amel dan Lisa. Tapi karena Amel dan Lisa tidak di kantor, aku ga berani masuk ke ruangan mereka dan mengambil bungkusan kebeng di dalam. Aku menunggu dan terus menunggu hingga Amel dan Lisa kembali. Badanku mulai lemas dan keringat dingin membasahi tengkuk leherku. Aku tetap menunggu sambil membaringkan kepalaku di atas meja yang tak terpakai pada ruangan accounting.

"Krieeet.." bunyi pintu terbuka, dan kulihat Amel dan Lisa sudah kembali. Aku mengikuti mereka masuk ke dalam ruangan dan segera meminta kebeng pada Amel dan menceritakan penderitaanku menahan lapar ketika mereka pergi. Amel dengan polosnya menjawab, "Napa ga ambil sendiri jak?" Aku cuma bisa diam sambil menyantap kebeng yang diberikannya. Ntahlah, perkataan Amel menunjukkan perhatiannya atau bisa juga ejekan kepadaku. Tapi kepingan kebeng pada hari itu adalah yang paling kuingat, karena tanpa sekeping kebeng itu, aku mungkin sudah pingsan dengan kepala tersandar di atas meja.

---------------------------------------------------------------------------------

- sesekali aku masih berkunjung ke hotel Orchid dan menghampiri ruang accounting, terutama ruang kecil tempat Amel dan Lisa berbagi komputer, dan Amel masih menawarkan kebengnya padaku sekalipun aku bukan lagi karyawan di hotel tsb. Perhatian yang tertumpah melalui kepingan kebeng, ntah aku yang menanggapinya berlebihan atau memang begitu adanya, tapi aku benar-benar berterima kasih atas setiap kepingan kebeng yang kusantap selama aku bekerja disana.

Terima kasih buat semua teman-teman accounting dept. yang sudah menerima aku dan berteman denganku, terutama buat Amel, kamu tetap kakakku. -



NB: masih mencoba belajar membuat sebuah cerita narasi-deskriptif, kritik n saran are welcome :)
(cerita ini diadaptasi dari kisah nyata penulis, nama-nama dalam cerita ini tidak semuanya asli)

Sabtu, 23 Juni 2012

hiduplah seperti. . .

Hola~ sudah lama ga ngepost apa-apa di blog ini, dan kali ini aku akan memulai kembali mengukir post dengan gaya yang sedikit berbeda. Sekarang aku mencoba meringkas beberapa makhluk atau benda yang menurutku bisa dijadikan pegangan buat hidup, dan inilah dia, hiduplah seperti:

  1. kopi; sekalipun pahit, tapi selalu dipilih sebagian besar penduduk bumi untuk menjadi teman untuk membuka hari. Memberi kehangatan, mengencangkan tali persahabatan, menyimpan kenangan, mengiringi setiap canda dan tawa.
  2. domba; lembut, menghangatkan, dan selalu rela memberi tanpa meminta balas budi. Bayangkan sudah berapa banyak setel pakaian yang terbuat dari bahan wool yang berasal dari bulu domba. Pernahkah kalian mendengar seekor domba berteriak kesakitan dan meminta bayaran? :)
  3. donat / doughnut; coba kalian perhatikan baik-baik. Adakah roti lain yang bolong kea donat? Kalopun ada, pasti susah laku karena memang ga dikenal sebagai roti bolong. Meskipun ga sempurna, tetap dengan percaya diri mampu berada di atas roti-roti lain yang ada di bumi ini. Jadi, jangan malu dengan kekurangan kita, karena itu ciri khas kita. ;)
  4. ban motor / mobil; coba lihat ban belakang kendaraan. Udah tau ga bisa ngejar ban depan, tapi tetap penuh semangat dan pantang menyerah buat nyusul ban depan. Begitu juga ban depan, sekalipun dia udah ada di depan, tapi dia ga pernah sombong dan lengah, tapi terus memberikan yang terbaik buat selalu di depan n ga terperosok ke belakang. :D
  5. rumput; klasik kali ya, tapi input aja. Rumput ga pernah mati walau harus diinjak seribu kaki sekalipun, tapi bakal terus tumbuh dan menjadi semakin kokoh.
  6. angin; ga kelihatan, tapi bisa dirasakan. Berbuat baik itu perlu, tapi kalo berbuat baik cuma untuk dilihat dan dikenal orang lain, mending ga usah d. Hiduplah kea angin, ga harus dikenal banyak orang untuk berbuat baik. Berbuat baiklah tanpa dikenal. Biarkan orang lain merasakan kebaikanmu sekalipun dia tak tau siapa kamu.
  7. jendela; diantara tembok yang padat, jadilah sebuah jendela yang memperkenankan orang lain melihat keluar. Biarlah orang-orang menambah wawasan melalui kamu, jangan pelit berbagi pengetahuan tentang apa yang kamu tahu.
  8. buku; ga peduli covernya gimana, asal isinya bagus, orang pasti beli kok. Udah ga zaman sekarang menilai buku dari cover. Kamu juga, ga peduli mau kulit putih ato hitam, rambut kriting ato lurus, bangsa barat ato timur, orang pedalaman ato kota, selama tabiat kamu baik, orang pasti ngehargai kamu.
  9. air; jadilah orang yang fleksibel, dalam hal ini aku ga berbicara soal sungai ato air yang mengalir. Hidup kita ga boleh ikut arus aja, kadang kita harus menentukan arus hidup kita sendiri. Air selalu bisa menempatkan diri dengan baik dimanapun dia berada, jadilah seperti itu.
  10. nada; terdapat dua macam nada yang kukenal dan dikenal banyak orang. Mayor dan minor. Kebanyakan musisi awam berpikir bahwa nada mayor tidak mungkin bisa satu dengan nada minor, itu salah. Nada mayor dan minor bisa saja satu, hanya saja butuh penyesuaian. Begitu juga kita, terkadang kita terikat dalam peraturan sehingga merasa apapun diluar peraturan itu salah. Tapi ingat, ga ada aturan yang sempurna. Taat aturan itu baik, tapi kadang butuh sedikit penyimpangan untuk membuatmu tidak tertekan.
Sekian postingan kali ini, semoga sudah cukup meringkas. Salam kopi untuk kalian para pembaca :)

Rabu, 25 April 2012

This too, Will end

Kembali lagi ngepost di blog yang udah lama kutinggalkan ini. Sebenarnya bukan kutinggalkan sih, cuma ga tau aja apa yang harus di post dalam blog ini akhir-akhir ini. Seketika aku teringat dengan cerita yang disampaikan oleh salah seorang teman lewat broadcast BBM. Sebuah cerita sederhana, namun mengandung banyak makna. Ya, judul cerita itu sama persis dengan apa yang kujadikan judul untuk post kali ini.

Cerita singkat tersebut menceritakan kehidupan seorang pengrajin emas di sebuah kerajaan. Ia begitu mahir dan baik hati, juga bijaksana. Oleh sebab itu, raja sangat menghargainya dan telah menganggapnya orang tua keduanya. Suatu saat, ketika pengrajin ini sudah mencapai usianya yang renta, sang raja meminta 1 hal untuk dilakukannya. Sang raja memintanya membuat sebuah cincin emas, dengan ukiran beberapa kata yang dapat dijadikannya pelajaran dalam hidupnya hingga tua.

Pengrajin tersebut memikirkan apa yang harus dituliskannya di balik cincin tersebut selama beberapa hari sebelum kemudian menemukan beberapa kata untuk diukirkan pada cincin tersebut. Setelah menyelesaikan tugas terakhirnya, ia menghembuskan nafas terakhirnya beberapa hari kemudian. Sang raja melihat tulisan yang diukir pengrajin tersebut di balik cincin dan menemukan 4 kata terukir disana, yang berbunyi, "this too, will end".

Awalnya sang raja tidak mengerti akan arti dari kata-kata tersebut. Tapi suatu hari, pada saat ia sedang merasa susah karena masalah politik yang begitu berat, ia membaca tulisan itu dan merasa tenang. Saat ia sedang berpesta, ia membaca tulisan tersebut dan kembali rendah hati.

Ya, makna dari tulisan itu adalah, "TIDAK ADA YANG ABADI". Semuanya pasti berlalu, kesedihan, amarah, kebencian, kebahagiaan, dendam, keberuntungan, semuanya tidak ada yang bersifat abadi. Semuanya hanya bumbu dalam hidup seorang manusia.

Maka dari itu kawan-kawan sekalian, meskipun kadang kita begitu beruntung ketimbang orang lain, jangan merasa tinggi hati, tapi rendah hati lah, sebab tidak selamanya kita akan beruntung. Begitu pula saat kita galau dan gundah karena masalah yang menimpa kita, janganlah terlarut dalam segala kesedihan, karena hal itu pasti berakhir. Jalani hidupmu dengan penuh keseimbangan, jangan dibawa berat sebelah. Enjoy life as what it used to be, don't force it to be what we want to be.


author: ~unknown~

Sabtu, 31 Maret 2012

things won't go easier, be stronger

kawan, sekian lama aku ga post sesuatu di blog ini. Sekarang aku kembali ngepost karena ada yang terlintas di pikiranku. Berhubungan dengan hal usaha dan sekali lagi, tetap, untuk mencapai sukses.

Banyak orang berkata, 'cobaanku terlalu berat', 'hidupku terlalu menyiksa', atau mungkin 'dunia ini membunuhku!'. Semua terkesan benar adanya. Kapan sih ada manusia yang hidup tanpa menemui cobaan ataupun masalah? Ga ada, ga pernah ada, dan ga akan ada. Benar bukan? Sekalipun ada, sebenarnya orang itu bukan hidup tanpa masalah, hanya saja dia mampu hidup beriringan dengan masalahnya.

Saya pernah menonton acara TV Mario Teguh Golden Ways dan mengutip sebuah kata untuk post kali ini. 'Saat kamu dipukul, dan kamu melawan arah pukulan itu, kamu akan merasa sakit. Ikutlah dalam pukulan itu dan kamu tidak akan merasa sakit'. Ya, hal sama berlaku untuk setiap masalah dan cobaan dalam hidup. Tapi bukan berarti setiap kali terjerat masalah atau mengalami cobaan, kita harus pasrah dan terpuruk di dalamnya.

Yang dimaksud dengan ikutlah dalam pukulan adalah, jangan menghadapi suatu cobaan atau masalah dengan menyesalinya. Jangan bawa masalah menjadi beban yang berat. Kita berpikir bahwa masalah kita berat karena kita mengharapkan sesuatu yang ringan. Itulah perlawanan kita terhadap pukulan dari masalah. Ikutlah dalam pukulan. Jika ditimpakan beban yang menurutmu berat, bentuklah pundak yang kuat agar mampu membawanya. Jangan jadikan segala beban berat karena semakin seseorang menjadi dewasa, segala hal dalam hidupnya memang akan menjadi lebih berat.

Sama seperti bermain game, semakin level kita meningkat, kita akan menemui rintangan yang semakin sulit. Tabahlah, jangan mengeluh dan jangan menyerah. Hidup adalah sebuah permainan yang harus diselesaikan.

Jangan pernah meminta beban yang ringan, kawan. Mintalah pundak yang kuat. Setiap hal tidak akan menjadi lebih mudah, kuatlah.


author : Coffeesheepz

Rabu, 18 Januari 2012

kepakkan sayapmu

Sebelum memulai post ini, aku mengucapkan selamat tahun baru bagi pembaca, semoga tahun 2012 ini menjadi tahun yang baik bagi kita semua. Ya, tahun yang baik hingga kesuksesan bisa tercapai, angan bisa terwujud, dan mimpi dapat diraih.

Kawan, ini adalah post pertamaku pada tahun 2012, harapanku adalah agar post ini dapat membantu merealisasikan apa yang menjadi doa di awal tahun akan kesuksesan, dan menunjukkan sedikit refleksi akan hidup kita menanggapi kesuksesan.

Pagi ini aku memulai rutinitasku, dan ntah mengapa pagi ini aku tertarik untuk mencari tau bagaimana seekor burung bisa terbang. Mungkin karena aku ingin punya sayap dan sejak kecil selalu berkata kepada diriku sendiri, "andai aku punya sayap". Tapi kawan, sebuah fakta unik yang kutemukan adalah burung pun tak akan pernah bisa terbang jika hanya bermodalkan sayap. Sadarkah anda?

Bagi seekor anak burung, memiliki sayap adalah kelebihannya dari binatang lain yang tak bersayap. Tapi apa artinya sayap jika seekor anak burung hanya diam di dalam sarangnya? Seekor anak burung akan terbang jika ia berani keluar dari sarangnya dan berani merasakan jatuh. Tanpa semua itu, terbang hanyalah mimpi bagi mereka.

Begitu pula manusia, memiliki akal budi adalah sebuah kelebihan manusia dari makhluk hidup lainnya. Tapi apa artinya akal budi manusia jika tidak pernah dipakai? Sarang burung diibaratkan ketakutan manusia, hidup dalam ketakutan akan jatuh adalah hal yang harus dilawan. Sampai kapan kita akan bertahan dengan segala ketakutan dan mencari jalan aman? jika seekor anak burung tidak keluar dari sarangnya, ia juga hanya mencari aman. Manusia yang ingin sukses adalah manusia yang berani menantang resiko, bukan manusia yang diam dalam sarangnya, dalam segala kekhawatirannya.

Jatuh juga bukan hal yang harus dihindari. Seperti seekor anak burung yang kini beterbangan di langit luas, mereka pun pernah terjatuh. Saat pertama mereka mengepakkan sayapnya, mereka pasti merasakan yang namanya jatuh. Manusia, pertama kali mencoba, tak jarang terjatuh, mengalami hambatan dan celaan adalah wajar dalam mencoba. Seberapa mampu kita menahan sakit saat terjatuh, dan mencoba kembali? Seekor anak burung tak pernah berhenti berusaha untuk terbang. Meskipun terjatuh, tetap kembali mengembangkan sayap kecilnya dan berusaha terbang lagi.

Manusia adalah makhluk yang mendekati sempurna. Setiap kita berpikir "andai aku punya sayap", ingatlah bahwa kita semua punya sayap, hanya saja sayap kita tak terlihat, dan sayap yang dimiliki manusia jauh lebih besar dari sayap rajawali sekalipun. Sayap manusia dapat mengembang lebar, selebar yang kita inginkan. Setiap manusia dapat terbang tinggi menggapai segala angannya yang digantungkan diatas bintang, dan terus terbang setinggi langit ke tujuh. Yang dibutuhkan hanyalah usaha dan ketabahan saat terjatuh. Usaha itu susah, apalagi untuk bisa menerima kegagalan. Tapi itulah syarat untuk bisa terbang.


Oya, satu lagi hal unik. Seekor anak burung yang sudah bisa terbang, tidak akan pernah lupa dengan sarangnya. Saat ia bisa terbang, tujuan pertamanya adalah sarang kusamnya, tempat ia tumbuh dan memulai usahanya. Jadi, bagi kalian yang sudah berhasil terbang dan meraih angan di bintang, jangan pernah lupa dengan titik awal usaha kalian, teman-teman dan orang tua yang sudah memberikan dukungan bagi kalian, kepada rumah kecil tempat kalian tumbuh.



author: ~d'Coffeesheepz